Haii nama
saya Siti Syarah Antika biasa di panggil Syarah. Saya kuliah di UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
jurusan Psikolog semester 2. Saya mau posting tentang Sejarah tokoh Psikologi di
Indonesia yang sebenarnya tugas dari kampus hehehe :D
Profesor
emeritus Fakultas Psikologi UI beliau meninggal dalam usia 97 tahun, Selasa 9 November
2004 dini hari pukul 00.30, Psikiater kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 7
September 1907. Beliau tidak saja perintis dan pendiri Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia tetapi juga perintis studi psikologi di Indonesia.
Patutlah dia digelari Bapak Psikologi Indonesia.
Motivasi mantan
Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938), ini merintis dan
mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai psikiater menemukan banyak
masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh psikiater. Dalam bidang profesi
kedokteran, dia menerima penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) pada tahun 1989.
Menurut Conny
Semiawan, mantan rektor IKIP Jakarta yang juga murid dan sempat menjadi asisten
Slamet Iman dalam menguji mahasiswa, Slamet adalah tokoh pendidikan yang
berani.
Dia adalah orang
pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di
Indonesia. Usul yang dia lontarkan sepanjang tahun 1979-1981 ini membuat heboh
dunia pendidikan. Dia juga orang yang mengkritik keras minimnya gaji guru yang
dia sebut dapat merusak dunia pendidikan. Dia membandingkan gaji guru jaman
Belanda yang dua kali lipat daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu
mencari tambahan dan dunia pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.Dia
juga mempunyai andil besar dalam merintis program penerimaan mahasiswa melalui
UMPTN.
Beliau juga penulis
terkemuka. Dia sering menulis kolom di berbagai media dan juga menulis buku. Di
antara bukunya yang terkenal adalah Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan,
Sinar Hudaya, Jakarta (1977).
Ayahnya seorang
Asisten Wedana Banjaran. Di bawah pengasuhan ayahnya, Slamet menikmati masa
kecilnya dengan penanaman nilai-nilai keramahan, saling tolong-menolong dan
gotong-royong. Masa kecil dan remajanya diisi dengan mengecap pendidikan pada
jaman kolonial Belanda di Magelang, mulai dari Europeesche Lagere School (ELS),
Hollandsch Inlandsche School (HIS (1912-1920) dan Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs (MULO (1920-1923). Kemudian melanjut ke MAS-B, Yogyakarta
(1923-1926); Indische Arts, Stovia (1926-1932); dan Geneeskunde School of Arts,
Batavia Sentrum (1932-1934).Dia pun terkesan sangat mengagungkan pendidikan
masa kolonial Belanda itu. Walaupun dia menyadari kondisi pendidikan ketika itu
sangat berbeda disbanding setelah Indonesia merdeka. Dia mengenang, pada zamannya
bersekolah dulu, sangat diasakan betapa guru sangat begitu memperhatikan murid
dan bersatu dengan orang tua murid. Hal yang sudah jarang terjadi saat ini.
Masuknya Jepang,
menurutnya, memberi andil atas awut-awutannya pendidikan di negeri ini. Terasa
sekali suasana pendidikan zaman Belanda yang terkesan akrabnya hubungan orang
tua-murid-guru, tiba-tiba hilang lenyap, diganti dengan jaman pendidikan Jepang
yang mulai awut-awutan. Ironisnya, kondisi ini terus berlangsung sampai
sekarang. Dia memberi beberapa bukti. Di antaranya, sekarang ada guru yang
mengasih tahu bahan ujian yang akan diuji kepada murid.AbumawasProfesor
emeritus Fakultas Psikologi UI ini juga dikenal sebagi tokoh yang jahil dan
sering dinilai aneh. Dia sendiri mengibaratkan diri sebagai Abunawas. Karena,
menurutnya, Abunawas itu tokoh penuh akal. Jiwa Abunawas itu pun banyak
menyemangati hidupnya.Dalam buku, Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia
1985-1986, diceritakan sekali waktu dia melihat mobil seorang pejabat UI
diparkir salah dengan posisi miring di halaman kampus UI. Ia mengambil kertas
dan menulisnya dengan spidol: “Barangsiapa yang parkir mobil miring, otaknya
juga miring”.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar